Minggu, 27 Oktober 2013

Tanaman Bunglon Bisa Mendeteksi Keberadaan Bahan Berbahaya


June Medford, Tanaman Bunglon Bisa Mendeteksi Keberadaan Bahan Berbahaya
Bukan cuma bunglon yang bisa berganti warna kulit. Ternyata, tanaman pun kini bisa berubah warna sesuai dengan kondisi yang menaunginya.
Adalah June Medford, seorang pakar biologi dari Colorado State University, yang berhasil melakukan rekayasa genetik terhadap tanaman arabidopsis, sehingga tanaman tersebut bisa berganti warna. 
Seperti dikutip dari situs PCWorld,  tanaman hasil rekayasa Medford dan timnya, akan berubah warna dari hijau menjadi putih saat tanaman itu mendeteksi kehadiran unsur berbahaya di dekatnya, seperti obat terlarang, polutan, atau bahkan material eksplosif.
Awalnya, Medford menggunakan komputer untuk mendesain protein tanaman bernama reseptor. Kemudian, Medford memanfaatkan bakteri untuk memodifikasi reseptor tanaman tersebut.
Dengan struktur genetika yang telah dimodifikasi, maka reseptor tumbuhan bisa mendeteksi partikel-partikel bahan kimia berbahaya, polutan, bahan peledak, atau ancaman lain. Saat mendeteksi kehadiran zat-zat tersebut, tanaman akan mengirimkan sinyal, sehingga warna hijaunya berubah menjadi putih.
"Bila Anda membawa sesuatu ke bandara internasional Denver, misalnya sebuah bahan peledak, maka tanaman ini akan berubah warna menjadi putih. Ini akan memberikan keamanan bagi Anda," kata Medford, kepada situs The Denver Post.



















Proyek penelitian itu didukung oleh Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) sejak 2003, dengan bantuan dana sebesar US$500 ribu atau Rp4,5 miliar. Belakangan, riset ini juga mendapat dukungan dari The Office of Naval Research, Department of Homeland Security, dan Defense Threat Reduction Agency.
"Harapan kami, tanaman ini bisa ditempatkan di lokasi umum, sehingga bisa mendeteksi bahan peledak di lokasi tempat benda berbahaya itu sedang dirakit," kata Doug Bauer, Program Manager riset eksplosif pada Homeland Security di Washington DC. 
Aplikasi lainnya, tanaman ini juga bisa digunakan oleh polisi untuk memberantas peredaran obat terlarang, atau melindungi tentara yang tengah konvoi dari bom dan ranjau. 
Kini, tanaman ini masih memerlukan waktu sekitar tiga jam untuk merespons keberadaan zat-zat berbahaya tadi dan perubahan warna. Namun, para ilmuwan yakin akan diperoleh kemajuan sehingga respons yang ditunjukkan tanaman bisa segera terlihat dalam hitungan menit.


  • Artikel lain yang mungkin Anda sukai:
  • 10 Ikan Prasejarah Yang Masih Hidup
    Akibat Pestisida, Kini Lebah Tidak Tahu Jalan Pulang
    Kulit Katak Hasilkan Obat Kanker
    Lebah Mampu Hasilkan Energi Listrik dari Matahari
    Micronecta scholtzi, Hewan Paling Berisik di Bumi
    Makhluk Kecil Yang Menyingkap Tabir Kematian
    Bakteri dalam Usus Pengaruhi Perilaku Manusia
    Mikrobot, Robot Mikro yang Bisa Membawa Objek 4 Kali Lebih Besar
    Apakah Pengaruh Turunnya Aktvitas Matahari pada Bumi?
    Apakah Benar Pohon Bisa Bicara?
    Virus Untuk Optimalkan Sel Surya
    Mengapa Burung Pelatuk Tak Pusing Saat Mematuk Batang Pohon?
    Cara Semut Merah Bersosialisasi Mirip Seperti Facebook
    Sistem Kekebalan Tubuh Dapat Dikendalikan Oleh Pikiran
    Penguraian Air Menggunakan Gelombang Radio
    Pengembangan Teknologi Nuklir
    Mengubah Urin Jadi Bahan Bakar Hidrogen
    Misteri Hilangnya Gas Mulia Xenon
    Rahasia di balik kemahiran tokek merayap
    Macam dan Jenis Garam Mineral yang Dibutuhkan Oleh Tubuh
    Definisi dan Fungsi Vitamin
    Tehnik dan Teknologi Pengawetan Makanan
    Seorang Ilmuwan yang Dihantui Hasil Temuannya
    Ditemukan Ramuan Pembuat Emas
    Alasan Tidak Boleh Minum Obat dengan Susu
    Alat Sederhana Merubah Sampah Plastik Menjadi Minyak Mentah

0 komentar:

Posting Komentar